Minggu, 31 Mei 2020

Umur Boleh tua, tetapi semangat tidak boleh Tua. Almrhum Bpk Guru Mesak Kenelak


Selamat Jalan Pejuang, Inspirator dan Motifator Bangsa Papua Barat.

Bapak Mesak Kenelak 
""""""""""""""""""""""""""""""""""""""
Bapak Guru Mesak Kenelak adalah seorang inspirator, Motifator dan Pejuang kebebasan Papua Barat . 

Setiap kali ada kegiatan dimanapun, Bapak Almrhum Mesak Kenelak selalu Katakan bahwa Umur Boleh Tua tetapi Semangat tidak boleh tua Tetap Muda sampai Akhir hayat. 

Saya sendiri menyaksikan semangatnya Bapak Almrhum Mesak. Kenelak. Tiap ada kegiatan dimanapun dia selalu hadir, sekalipun tanpa ada kendaraan. Bpk Almarhum tidak Pernah membedakan tua, Muda, miskin, kaya ataupun Organisasi manapun ia selalu hadir ambil bagian.

Kehadiran Bapak  Bpk Almrhum disetiap kegiatan pastinya ada canda tawa, karena humornya. 


Alrahum Bapak Guru Mesak Kenelak Memberikan dan Menanam Contoh terbaik bagi Generasi papua lebih khusus Suku Walak kedepan.

 Agar pemuda   kedepan menjaga persatuan dan Kesatuan dalam memperjuangkan kebebasan Bangsa West Papua
Amin!!!!

Kamis, 27 Juni 2019

ATRIBUT NEGARA WEST PAPUA Pelajaran Bagi GENEREASI PAPUA BARAT


Atribut Negara Papua Barat

I.       Nama Negara
Ketika Papua Barat masih menjadi daerah sengketa akibat perebutan wilayah itu antara Indonesia dan Belanda, tuntutan rakyat Papua Barat untuk merdeka sebagai negara merdeka sudah ada jauh sebelum kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.[1] Memasuki tahun 1960-an para politisi dan negarawan Papua Barat yang terdidik lewat sekolah Polisi dan sebuah sekolah Pamongpraja (Bestuurschool)[2] di Jayapura (Hollandia), dengan mendidik 400 orang antara tahun 1944-1949 mempersiapkan kemerdekaan Papua Barat.
Selanjutnya atas desakan para politisi dan negarawan Papua Barat yang terdidik, maka pemerintah Belanda membentuk Nieuw Guinea Raad (Dewan Nieuw Guinea). Beberapa tokoh-tokoh terdidik yang masuk dalam Dewan ini adalah M.W. Kaisiepo dan Mofu (Kepulauan Chouten/Teluk Cenderawasih), Nicolaus Youwe (Hollandia), P. Torey (Ransiki/Manokwari), A.K. Gebze (Merauke), M.B. Ramandey (Waropen), A.S. Onim (Teminabuan), N. Tanggahma (Fakfak), F. Poana (Mimika), Abdullah Arfan (Raja Ampat). Kemudian wakil-wakil dari keturunan Indo-Belanda adalah O de Rijke (mewakili Hollandia) dan H.F.W. Gosewisch (mewakili Manokwari).[3] Setelah melakukan berbagai persiapan disertai dengan perubahan politik yang cepat akibat ketegangan Indonesia dan Belanda, maka dibentuk Komite Nasional yang beranggotakan 21 orang untuk membantu Dewan Nieuw Guinea dalam mempersiapkan kemerdekaan Papua Barat. Komite ini akhirnya dilengkapi dengan 70 orang Papua yang berpendidikan dan berhasil melahirkan Manifesto Politik yang isinya:[4]


         1.     Menetukan nama Negara                        : Papua Barat
         2.     Menentukan lagu kebangsaan                : Hai Tanahku Papua
         3.     Menentukan bendera Negara                 : Bintang Kejora
     4. Menentukan bahwa Bendera Bintang Kejora akan dikibarkan pada 1 November 1961.
      5.     Menentukan Lambang Negara Papua Barat adalah Burung Mambruk dengan semboyan “One People One Soul”.


[1] Tumbuhnya paham “Nasionalisme Papua” di Papua Barat mempunyai sejarah yang panjang dan pahit. Sebelum dan selama perang dunia ke II di Pasifik, nasionalisme secara khas dinyatakan melalui gerakan Millinerian, Mesianic dan “Cargo-Cultis”.
[1] Pendiri sekolah ini, yaitu J. P. van Eechoud oleh banyak orang Papua dijuluki sebagai “Vader der Papoea’s” (Bapak Orang Papua).
[1] Yorrys Th. Raweyai, Mengapa Papua Ingin Merdeka, Presidium Dewan Papua, Jayapura, 2002. Hal. 16.
[1] Ibid., 16

Rencana pengibaran bendera Bintang Kejora tanggal 1 November 1961 tidak jadi dilaksanakan karena belum mendapat persetujuan dari Pemerintah Belanda. Tetapi setelah persetujuan dari Komite Nasional, maka Bendera Bintang Kejora dikibarkan pada 1 Desember 1961 di Hollandia, sekaligus “Deklarasi Kemerdekaan Papua Barat”. Bendera Bintang Kejora dikibarkan di samping bendera Belanda, dan lagu kebangsaan “Hai Tanahku Papua” dinyanyikan setelah lagu kebangsaan Belanda “Wilhelmus”. Deklarasi kemerdekaan Papua Barat ini disiarkan oleh Radio Belanda dan Australia. Momen inilah yang menjadi Deklarasi Kemerdekaan Papua Barat secara de facto[1] dan de jure[2] sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat.





[1] Kemerdekaan Papua Barat sah secara de facto karena kemerdekaan itu benar-benar terjadi secara nyata pada tanggal 1 Desember 1961.


[2] Sementara sah secara de jure karena kemerdekaan Papua Barat 1 Desember 1961 dilegalkan oleh berbagai produk hukum. Secara hukum nasional Indonesia termuat dalam Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi “bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan ….” . Secara hukum internasional, misalnya Pasal 73 Piagam PBB yang berbunyi “All people have the right to self determination regardless of their state of development” dan berbagai konvensi internasional lainnya.


II.    Nama dan Arti Bendera Negara Papua Barat
Nama bendera kebangsaan Papua Barat adalah Bintang Kejora, arti bendera Bintang Kejora :
 
MERAH melambangkan api politik yang sedang merajalela dan hendak memperkosa nasib, tanah dan bangsa Papua.

BINTANG PUTIH ditengah merah itu melambangkan bangsa Papua yang sedang bangkit mendesak ditengah api politik itu untuk memperoleh tempatnya sendiri disamping bangsa-bangsa lain di bumi.

TUJUH BARIS MEMBUMI BIRU mengibaratkan tersebarnya bangsa Papua diantara enam keresidenan yang dilambangkan oleh ENAM BARIS PUTIH MEMBUMI pula.


mengibaratkan tersebarnya bangsa Papua diantara enam keresidenan yang dilambangkan 

oleh ENAM BARIS PUTIH MEMBUMI pula.





BINTANG PUTIH (BINTANG KEJORA) adalah bangsa Papua yang penuh perasaan suci dan hukum mengambil tempatnya  bangsa-bangsa didunia ini.
 
Bintang Putih diatas lapangan MERAH adalah bangsa Papua yang bersedia pula dengan berani dan hati jujur mempertahankan tempatnya didunia yang penuh pertempuran dengan sekalian berusaha sepenuh tenaganya membangun negara yang makmur dan bahagia.

TUJUH BARIS BIRU diantara ENAM BARIS PUTIH melambangkan semua suku bangsa, dengan berbagai bahasa dan kebiasaan hidupnya yang bersama-sama hidup diberbagai residentie sekarang ini yang nanti akan menjadi propinsi dikemudian hari.



[1] Kemerdekaan Papua Barat sah secara de facto karena kemerdekaan itu benar-benar terjadi secara nyata pada tanggal 1 Desember 1961.
[1] Sementara sah secara de jure karena kemerdekaan Papua Barat 1 Desember 1961 dilegalkan oleh berbagai produk hukum. Secara hukum nasional Indonesia termuat dalam Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi “bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan ….” . Secara hukum internasional, misalnya Pasal 73 Piagam PBB yang berbunyi “All people have the right to self determination regardless of their state of development” dan berbagai konvensi internasional lainnya.




 
BENDERA PUSAKA BINTANG KEJORA Ukuran Panjang dan Lebar: 3,5 Meter dan 2,22 Meter

III.          Semboyan Negara Papua Barat
Seboyan Negara Papua Barat selanjutnya disebut “One People, One Soul”

VI.           Lambang Negara Papua Barat
Lambang Negara Papua Barat yaitu Burung Mambruk  





I.             Lagu Kebangsaan Papua Barat
Lagu kebangsaan Papua Barat adalah Hai Tanah-Ku Papua, Lagu Kebangsaan Papua Barat diciptakan oleh : Isack Samuel
dengan lirik lagu sebagai berikut :



Hai Tanahku Papua,                                                  
Kau Tanah Lahirku,
Ku Kasih Akan Dikau,
Sehingga Ajalku.
Kukasih Pasir Putih,
Dipantaimu Senang,
Dimana Lautan Biru,
Berkilat Dalam Trang.
Kukasih Bunyi Ombak,
Yang Pukul Pantaimu,
Nyanyian Yang Selalu,
Senangkan Hatiku.
Kukasih Gunung-gunung,
Besar Mulialah,
Dan Awan Yang Melayang,
Keliling Puncaknya.

Kukasih Hutan-hutan,
Selimut Tanahku,
Ku Suka Mengembara,
Dibawah Naungmu.
Kukasih Engkau Tanah,
Yang Dengan Buahmu,
Membayar Kerajinan,
Dan Pekerjaanku.
Syukur Bagi-Mu Tuhan,
Kaubrikan Tanahku,
Bri Aku Rajin Juga,