Atribut Negara Papua Barat
I. Nama Negara
Ketika Papua Barat masih menjadi daerah sengketa akibat perebutan
wilayah itu antara Indonesia dan Belanda, tuntutan rakyat Papua Barat untuk
merdeka sebagai negara merdeka sudah ada jauh sebelum kemerdekaan Indonesia 17
Agustus 1945.[1]
Memasuki tahun 1960-an para politisi dan negarawan Papua Barat yang terdidik
lewat sekolah Polisi dan sebuah sekolah Pamongpraja (Bestuurschool)[2]
di Jayapura (Hollandia), dengan mendidik 400 orang antara tahun 1944-1949
mempersiapkan kemerdekaan Papua Barat.
Selanjutnya atas desakan para politisi dan negarawan Papua Barat yang
terdidik, maka pemerintah Belanda membentuk Nieuw Guinea Raad (Dewan
Nieuw Guinea). Beberapa tokoh-tokoh terdidik yang masuk dalam Dewan ini adalah
M.W. Kaisiepo dan Mofu (Kepulauan Chouten/Teluk Cenderawasih), Nicolaus Youwe
(Hollandia), P. Torey (Ransiki/Manokwari), A.K. Gebze (Merauke), M.B. Ramandey
(Waropen), A.S. Onim (Teminabuan), N. Tanggahma (Fakfak), F. Poana (Mimika),
Abdullah Arfan (Raja Ampat). Kemudian wakil-wakil dari keturunan Indo-Belanda
adalah O de Rijke (mewakili Hollandia) dan H.F.W. Gosewisch (mewakili
Manokwari).[3]
Setelah melakukan berbagai persiapan disertai dengan perubahan politik yang
cepat akibat ketegangan Indonesia dan Belanda, maka dibentuk Komite Nasional
yang beranggotakan 21 orang untuk membantu Dewan Nieuw Guinea dalam
mempersiapkan kemerdekaan Papua Barat. Komite ini akhirnya dilengkapi dengan 70
orang Papua yang berpendidikan dan berhasil melahirkan Manifesto Politik yang
isinya:[4]
1.
Menetukan nama Negara : Papua Barat
2.
Menentukan lagu kebangsaan :
Hai Tanahku Papua
3.
Menentukan bendera Negara :
Bintang Kejora
4. Menentukan bahwa Bendera Bintang Kejora akan dikibarkan pada 1
November 1961.
5.
Menentukan Lambang Negara Papua Barat adalah Burung Mambruk dengan
semboyan “One People One Soul”.
[1] Tumbuhnya paham “Nasionalisme Papua” di Papua Barat
mempunyai sejarah yang panjang dan pahit. Sebelum dan selama perang dunia ke II
di Pasifik, nasionalisme secara khas dinyatakan melalui gerakan Millinerian,
Mesianic dan “Cargo-Cultis”.
[1] Pendiri sekolah ini, yaitu J. P. van Eechoud oleh
banyak orang Papua dijuluki sebagai “Vader der Papoea’s” (Bapak Orang
Papua).
[1] Yorrys Th. Raweyai, Mengapa Papua Ingin Merdeka,
Presidium Dewan Papua, Jayapura, 2002. Hal. 16.
[1] Ibid., 16
Rencana pengibaran bendera Bintang Kejora tanggal 1 November 1961
tidak jadi dilaksanakan karena belum mendapat persetujuan dari Pemerintah
Belanda. Tetapi setelah persetujuan dari Komite Nasional, maka Bendera Bintang
Kejora dikibarkan pada 1 Desember 1961 di Hollandia, sekaligus “Deklarasi
Kemerdekaan Papua Barat”. Bendera Bintang Kejora dikibarkan di samping bendera
Belanda, dan lagu kebangsaan “Hai Tanahku Papua” dinyanyikan setelah lagu
kebangsaan Belanda “Wilhelmus”. Deklarasi kemerdekaan Papua Barat ini disiarkan
oleh Radio Belanda dan Australia. Momen inilah yang menjadi Deklarasi
Kemerdekaan Papua Barat secara de facto[1]
dan de jure[2]
sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat.
[1] Kemerdekaan Papua Barat sah secara de facto
karena kemerdekaan itu benar-benar terjadi secara nyata pada tanggal 1 Desember
1961.
[2] Sementara sah secara de jure karena
kemerdekaan Papua Barat 1 Desember 1961 dilegalkan oleh berbagai produk hukum.
Secara hukum nasional Indonesia termuat dalam Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi
“bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa oleh sebab itu
penjajahan di atas dunia harus dihapuskan ….” . Secara hukum internasional,
misalnya Pasal 73 Piagam PBB yang berbunyi “All people have the right to
self determination regardless of their state of development” dan berbagai
konvensi internasional lainnya.
II. Nama dan Arti Bendera Negara Papua Barat
Nama bendera kebangsaan
Papua Barat adalah Bintang Kejora, arti bendera Bintang Kejora :
MERAH
melambangkan api politik yang sedang merajalela dan hendak memperkosa nasib,
tanah dan bangsa Papua.
BINTANG
PUTIH ditengah merah itu melambangkan bangsa Papua yang sedang
bangkit mendesak ditengah api politik itu untuk memperoleh tempatnya sendiri
disamping bangsa-bangsa lain di bumi.
TUJUH
BARIS MEMBUMI BIRU mengibaratkan tersebarnya bangsa
Papua diantara enam keresidenan yang dilambangkan oleh ENAM BARIS PUTIH
MEMBUMI pula.
mengibaratkan
tersebarnya bangsa Papua diantara enam keresidenan yang dilambangkan
oleh ENAM
BARIS PUTIH MEMBUMI pula.
BINTANG PUTIH (BINTANG KEJORA)
adalah bangsa Papua yang penuh perasaan suci dan hukum mengambil tempatnya bangsa-bangsa didunia ini.
Bintang Putih diatas lapangan MERAH adalah bangsa
Papua yang bersedia pula dengan berani dan hati jujur mempertahankan tempatnya
didunia yang penuh pertempuran dengan sekalian berusaha sepenuh tenaganya
membangun negara yang makmur dan bahagia.
TUJUH BARIS BIRU diantara ENAM BARIS
PUTIH melambangkan semua suku bangsa, dengan berbagai bahasa dan kebiasaan
hidupnya yang bersama-sama hidup diberbagai residentie sekarang ini yang nanti
akan menjadi propinsi dikemudian hari.
[1] Kemerdekaan Papua Barat sah secara de facto
karena kemerdekaan itu benar-benar terjadi secara nyata pada tanggal 1 Desember
1961.
[1] Sementara sah secara de jure karena
kemerdekaan Papua Barat 1 Desember 1961 dilegalkan oleh berbagai produk hukum.
Secara hukum nasional Indonesia termuat dalam Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi
“bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa oleh sebab itu
penjajahan di atas dunia harus dihapuskan ….” . Secara hukum internasional,
misalnya Pasal 73 Piagam PBB yang berbunyi “All people have the right to
self determination regardless of their state of development” dan berbagai
konvensi internasional lainnya.
BENDERA PUSAKA BINTANG
KEJORA Ukuran Panjang dan Lebar: 3,5 Meter dan 2,22 Meter
III.
Semboyan Negara Papua
Barat
Seboyan Negara Papua
Barat selanjutnya disebut “One People, One Soul”
VI.
Lambang Negara Papua
Barat
Lambang Negara Papua
Barat yaitu Burung Mambruk
I.
Lagu Kebangsaan Papua
Barat
Lagu kebangsaan Papua
Barat adalah Hai Tanah-Ku Papua, Lagu Kebangsaan Papua Barat diciptakan
oleh : Isack Samuel
dengan lirik lagu
sebagai berikut :
Kau Tanah Lahirku,
Ku Kasih Akan Dikau,
Sehingga Ajalku.
Ku Kasih Akan Dikau,
Sehingga Ajalku.
Kukasih Pasir Putih,
Dipantaimu Senang,
Dimana Lautan Biru,
Berkilat Dalam Trang.
Dipantaimu Senang,
Dimana Lautan Biru,
Berkilat Dalam Trang.
Kukasih Bunyi Ombak,
Yang Pukul Pantaimu,
Nyanyian Yang Selalu,
Senangkan Hatiku.
Yang Pukul Pantaimu,
Nyanyian Yang Selalu,
Senangkan Hatiku.
Kukasih Gunung-gunung,
Besar Mulialah,
Dan Awan Yang Melayang,
Keliling Puncaknya.
Besar Mulialah,
Dan Awan Yang Melayang,
Keliling Puncaknya.
Kukasih Hutan-hutan,
Selimut Tanahku,
Ku Suka Mengembara,
Dibawah Naungmu.
Selimut Tanahku,
Ku Suka Mengembara,
Dibawah Naungmu.
Kukasih Engkau Tanah,
Yang Dengan Buahmu,
Membayar Kerajinan,
Dan Pekerjaanku.
Syukur Bagi-Mu Tuhan,Yang Dengan Buahmu,
Membayar Kerajinan,
Dan Pekerjaanku.
Kaubrikan Tanahku,
Bri Aku Rajin Juga,

